Senin, 05 Agustus 2013

Teh Telur

Tulisan ini saya persembahkan untuk diri saya sendiri yang tidak kunjung mengantuk. Disebabkan oleh satu minuman sakti mandraguna bernama Teh Telur. Kekuatannya mengalahkan kandungan kafein pada kopi. Sepertinya saat minuman ini tercipta, sang penemu sedang dalam periode galau sehabis diputus pacarnya. Sehingga dia bereksperiman dengan berbagai jenis bahan minuman yang ada di dapurnya. Keren sekali.

Berhubung ada telepon masuk. Sekian dulu. Xoxoxoxo.

Sabtu, 20 Juli 2013

Follower

Istilah Follower atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti pengikut, mulai terkenal sejak awal Twitter ada dan menjadi salah satu jejaring media sosial paling populer di dunia.
Untuk bisa jadi seorang Follower, tentu saja seseorang harus punya satu akun twitter, dengan id yang dia inginkan dan masih tersedia atau tidak, karena di Twitter, dua orang saja tidak akan bisa punya satu id akun yang sama.
Saya pertama kali membuat akun Twitter pada bulan September 2009, tapi akun ini tidak sempat berisikan tweet karena kebingungan penggunaan dan belum menemukan kenikmatannya di mana dan saya masih sebagai user Facebook, yang masih getol untuk update status. 
Baru pada Februari 2010, saya mulai aktif sebagai pengguna Twitter dan mulai menjadi Follower berbagai akun yang menyajikan informasi maupun berbagai macam keseruan yang bisa saya dapatkan dengan mudahnya. Saya menikmati setiap informasi yang tersaji di Timeline dan bisa menyalurkan hobi saya dalam menulis, walaupun hanya terbatas pada 140 karakter saja. Saya bisa dengan asyiknya mencurahkan berbagai pemikiran, berkomunikasi dengan kawan-kawan maupun curahan hati, tanpa saya harus khawatir dengan segala macam tetek bengek kosakata berjudul "nyinyir, caper, twitwar dll."
Tapi, pada 2012, mulai terjadi pergeseran penggunaan Twitter yang saya alami. Bermula dari satu komunitas, yang memang bertujuan untuk senang-senang dan akhirnya mulai berinteraksi dengan banyak akun Twitter lainnya, yang rata-rata didominasi oleh user yang usianya masih relatif sangat muda. Saya merasakan  ada begitu banyak perubahan, yang dulunya hanya sebagai Follower, sekarang mulai difollow oleh banyak akun lainnya. Entah mereka iseng atau sekedar kurang kerjaan. Saya sedikit banyak terpengaruh oleh trend yang berkembang, ada semacam perlombaan untuk bisa punya banyak Follower, intensitas saya untuk posting tweet semakin tinggi, berbagai tipe tweet saya coba, dan akhirnya saya bosan sendiri. Ada begitu banyak judul tweet nyinyir, caper, sok selebtwit, twitwar dan bla bla yang akhirnya lebih mendominasi dibandingkan upaya yang lebih postif dalam sebuah komunitas besar.
Ada sebuah trend yang saya bingung harus menyikapinya seperti apa. Satu komunitas atau lebih dikenal dengan sebutan Circle di Twitter yang beranggotakan orang-orang yang memiliki satu kesamaan, baik hobi maupun melempar tweet yang bisa mereka buat seru. Akhirnya bermetamorfosa menjadi satu komunitas yang selalu siap untuk twitwar; menyerang satu atau beberapa akun Twitter yang bersebrangan pemahaman dengan mereka. Lantas berhamburan tweet-tweet yang saya pikir kurang begitu pantas untuk di-postingkan dan jadilah satu atau beberapa orang menjadi pesakitan. Karena semakin banyak jumlah kamu, semakin tinggi variabel kebenaran (subjektif) yang dimiliki. Menyedihkan sekaligus suka bikin saya tertawa sendiri. "Pantas saja Belanda melalui VOC bisa bertahan begitu lama di Bumi Nusantara, bila generasi saat ini saja kelakuannya seperti itu," batin saya. Padahal perkara bisa dibuat simpel, kalau memang tidak suka, ya unfollow. Sibukkan diri dengan aktifitas lainnya, lebih bermanfaat, apalagi di bulan suci Ramdhan seperti saat ini.
"Manusia memang selalu ingin mendapatkan tempat istimewa. Bahkan untuk tinjanya," kurang lebih begitu ujar seorang Surayah Pidibaiq. Rasa solidaritas pada satu kelompok, mengalahkan logika, nalar maupun hati seseorang. Keinginan untuk menjadi superior. Tapi ada sisi lain pada diri saya yang berpikir, mungkin mereka masih terlalu muda untuk bisa bersikap santun dan menghargai begitu banyak perbedaan atau sekedar mencari keseruan disebabkan hidup mereka sangat tidak asyik di dunia nyata sehingga beralih ke dunia nyata. Dan bisa jadi, saya lah yang salah karena masih bertahan mem-follow mereka atau kurang pintar mendefinisikan maksud dan tujuan mereka. Untungnya saya bisa sedikit berdamai dengan ego, mulai mem-follow semua akun yang semula jadi follower saya, menjauh dari semua drama dan belajar menikmati semua yang tersaji di Time Line. Welcome to the Jungle, eh Twitter.

Selasa, 09 Juli 2013

Ramadhan 2103

Akhirnya, kembali merasakan bulan suci ramadhan. Masih sahur bersama keluarga tersayang, minus adik pertama yang sedang kuliah di Semarang. 
Semoga puasa kali ini, saya bisa mengukir pengalaman baru dan melompat ke fase hidup selanjutnya. Setidaknya, kehidupan harus bergerak sesuai kodratnya. 
Ada begitu banyak harapan yang ingin diwujudkan, paling utama adalah perbaikan kualitas diri. Mampu meningkatkan rasa sabar, mengontrol emosi ke arah yang positif, mengurangi sifat ceroboh dan banyak hal lainnya.
Apa yang harus disyukuri akhir-akhir ini adalah walaupun kerapkali kondisi fisik tidak prima yang disebabkan oleh keteledoran mengatur jadwal istirahat. Ada kepercayaan diri yang kembali, setelah sempat mengambang sejak lima tahun silam.
Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ada perubahan, tidak perlu muluk-muluk, hal prinsipil saja dulu saya kira sudah cukup. Seperti semakin tercukupinya kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Amiin.

Senin, 01 Juli 2013

Prosesi Wisuda, Pentingkah?

Akhirnya, tanggal dan tempat wisuda sudah ditetapkan. Kamis, 4 Juli 2013. Setelah melewati proses panjang untuk mendapatkan gelar sarjana. Wisuda adalah titik puncak dari semua kegiatan sebagai mahasiswa yang sudah dijalani.Tapi, saya bahkan tidak punya ketertarikan sedikitpun untuk mengikuti wisuda. 

Mungkin terdengar aneh atau bisa jadi disebabkan saya sudah pernah mengikuti prosesi wisuda saat lulus di Program Diploma III. Saya memutuskan tidak akan ikut wisuda. Acara seremonial bagi saya cuma semacam pemborosan waktu, energi dan biaya tanpa subtansi. Karena penerapan akan gelar yang saya peroleh, bagi saya jauh lebih penting daripada cuma sekedar acara "bergesernya tali di toga," foto-foto dengan keluarga dan lain sebagainya. Biarlah, biaya yang sudah saya keluarkan untuk dan ternyata tidak mengikuti prosesi wisuda, bisa bermanfaat untuk para peserta lainnya.

Mungkin saya terlalu idealis, bisa jadi saya sudah terlalu muak dengan berbagai macam acara bersifat perayaan selama ini. Selamat wisuda kawan-kawan. Saya berbahagia untuk kita semuanya.

Jadi, pentingkah prosesi wisuda? 

Bagi saya, tidak.

Kamis, 27 Juni 2013

Cerita Juni

Juni selalu punya cerita
Pada udara kemarau yang labil
Dingin menggigit tulang dikala fajar menyingsing
Panas serupa sejumput api neraka terlontar pada siangnya

Juni selalu ingin bercerita
Kepada aku yang perlahan muak dengan hidup bersama orangtua
Rutinitas pekerjaan yang begitu-begitu saja
Pertanyaan di kepala yang selalu berulang-ulang bergema

Juni berkoalisi dengan semesta
Membuatku semakin tersesat terbelenggu oleh bayangan semu
Akan hadir sepasang sayap indah yang bersembunyi di balik punggungmu
Pada aku yang seringkali membenci pilihan hidupku sendiri

Juni hadir bersama kabut pagi yang pekat
Pada angin yang semakin betah hilir mudik di tubuh gempalku
Asap tembakau yang jika dikumpul membentuk satu gumpalan besar serupa danau sisa tambang liar
Perjalanan yang sama setiap harinya, muka yang selalu berbeda setiap harinya pula

Juni juga tak lupa menitipkan secuil cerita indah
Jenjang pendidikan normal manusia abad 21 yang berhasil aku selesaikan
Kerukunan orangtua dan adik yang semakin tumbuh dengan cerdasnya
Anak kucing yang semakin lucu dari hari ke hari

Juni menitipkan banyak pesan
Bersama angin gunung yang seringkali singgah ke kota kelahiranku
Mengusap kuduk agar segera mencari pendamping hidup
Ketakutan akan pemikiran abstrak dari kebodohan sendiri

Ini juni dan aku belum benar-benar siap akan pilihanku empat tahun yang lalu
Kisah cinta sepenggal yang menguasai waktu
Juni, boleh aku mengajakmu berdamai?
Ikhlaskan aku memulai satu yang baru

Rabu, 26 Juni 2013

Hari Rabu di Minggu Terakhir Bulan Juni

Hai, halo, semoga semuanya sehat dan berbahagia selalu.
Sudah beberapa hari tidak posting bukan karena kehabisan kata-kata. Justru ada lusinan rangkaian kalimat yang hendak berloncatan dan menarikan tari samba. Tapi lebih kepada menunggu mood dan kondisi fisik sedang prima, karena apa? karena aku sayang kamu. Halah.

Banyak kejadian yang sudah jadi sejarah pada beberapa hari sebelum hari ini. Dimulai dari domonstrasi besar-besaran menolak kenaikan BBM oleh mahasiswa diberbagagai daerah dan akhirnya tetap diumumkan secara resmi oleh Presiden RI bahwa BBM naik, kasus kerusuhan antara Syiah dan Sunni di Sampang dan Pidato "lemah" SBY meminta maaf kepada Pemerintah Malingsia dan Singapurapura terkait kiriman asap akibat pembakaran hutan dan lahan oleh pihak yang mau cari cara mudah tanpa mengeluarkan modal besar. Ah, Indonesia, dipimpin oleh seorang presiden yang bahkan tidak mampu secara spesifik menjabarkan kondisi sebenarnya.

Memposisikan diri jadi pengamat itu asyik juga ternyata, ya. Selain kita bisa menertawakan banyak hal janggal yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, juga bisa bersimpati terhadap begitu banyak penderitaan yang terjadi di republik ini. Hal yang paling penting adalah dari semuanya, saya pribadi bisa mengkoreksi diri, akan begitu banyak kekhilafan yang sering dilakukan dalam tindakan sehari-hari.


Ini hari rabu terakhir di bulan juni, tidak lama lagi kita akan menyongsong bulan suci ramadhan. Bulan penuh berkah dan sasana pribadi untuk bisa jadi lebih baik, sama saja atau bahkan lebih buruk.
Semuanya tinggal dipilih dan dijalani.

Harusnya saya di Bogor pada minggu ketiga ini, untuk mendaftar pada jenjang pendidikan pasca sarjana. Tapi, atas nama taat pada aturan pemerintah. Saya menunda niat saya, semoga tahun depan bisa terealisasi. Hidup selalu dipenuhi oleh rencana-rencana, tapi terkadang ada beberapa hal yang harus bisa dimaklumi kalau rencana tersebut tidak terwujud. 

Oh ya, setiap manusia kukira punya kegelisahan masing-masing, yang bersumber dari keinginan-keinginan yang belum terwujud. Tidak apa, saya sedang mengalaminya dan bisa dibilang sering. Beginilah hidup, cuma diri sendiri yang tahu apa sebenarnya kegelisahan yang kita punya bersumber dari apa dan semoga kapasitas diri mampu untuk menetralisirnya menjadi sesuatu yang positif sekaligus pelecut semangat untuk menjalani kehidupan ke depannya. Saya pikir, jujur pada diri sendiri sekaligus berpikir positif untuk semua hal adalah kuncinya.

Sekian dan terima kasih sayang dari kamu. Uwuwuwuwu.

Jumat, 21 Juni 2013

Fokus

Apa itu fokus? 

Menurut KBBJ: Kamus Berbahasa Bang Jemmy. Fokus adalah sama halnya dengan melupakan kamu-yang-susahnya minta ampun. Betapa tidak, ketika sedang mengerjakan satu kegiatan, selalu ada saja godaan untuk melakukan kegiatan lainnya. Contohnya: sebelum gue menulis ini, gue sedang mengerjakan peta dan tiba-tiba ingin menulis ini. Ya sudah, buyar semua kegiatan yang sudah gue canangkan dari hari kemarin.


Fokus itu apa? 

Gue cuma tahunya fokus dan bisa fokus itu cuma pada saat buang aing besar. Sumpah, gue gak bohong. Karena setelah gue pikir dengan mencoba fokus dari apa saja yang menyebabkan gue sampai detik ini susah fokus. Gue tiba-tiba terlempar ke masa lalu. Masa menjalani pendidikan sebagai seorang pelajar. Kamu juga mungkin mengalami kondisi yang sama, dimana setiap hari dijejali oleh begitu banyak mata pelajaran, yang otomatis kamu harus membagi fokusmu ke berbagai aspek. Mulai dari PR Mapel A sampai K. Coba bayangkan saudara-saudara setanah air beta. Bagaimana kita bisa punya kemampuan untuk fokus, kalau sedari belia saja otak sudah dipenuhi oleh berbagai macam tetek bengek yang tidak dipergunakan pada saat bekerja, kecuali membaca dan menulis. Begitu juga saat menempuh pendidikan di Universitas. Sama saja. Tiada beda.

Jadi apa itu fokus?

Menurut pendapat saya yang susah fokus. Fokus adalah satu ketetapan dari diri untuk bisa secara konsisten mengerjakan/memikirkan satu kegiatan pada satu waktu. Ya, cuma satu. Pikiran dilarang untuk bercabang karena bukan lidah ular. Halah.

Tersebutlah beberapa hari yang lewat. Saya berdiskusi dengan atasan di kantor. Beliau berujar sembari tertawa "Kita tidak pernah profesional dan fokus pada Tupoksi (tugas pokok dan fungsi), sehingga apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Terbengkalai semuanya."

Jadi, mungkin dalam keseharian kita. Ada begitu banyak inkonsistensi untuk bisa fokus pada satu aspek. Semua dikerjakan dalam satu moment. Sehingga produk yang dihasilkan tidak benar-benar sesuai dengan harapan. Contoh: pedagang kaki lima yang menjual bensin di pinggir jalan, lokasinya berdekatan dengan Pom bensin pula. Buat apa? sudah ada pembagian tugas dari negara dan kesepakatan masyarakat. Tapi, beginilah Indonesia, bung. Semua orang seolah mengetahui dan ahli dalam banyak hal. Sampai pengusaha warkop pun bisa berbicara politik dan seolah-olah ucapan dia bisa menentukan nasib bangsa ini.

Coba bandingkan dengan penduduk di Negara Jepang atau Jerman atau Korea Selatan. Mereka terdiri atas berbagai lapisan masyarakat yang sudah mengklasifikasikan dirinya masing-masing pada satu pekerjaan. Bukan seperti penduduk Republik Indonesia tercinta ini.

Tapi hei, coba lihat kemajuan yang mereka dapat. Kesejahteraan yang mereka nikmati, tidak perlu ada lagi kondisi bergelantungan pada atap kereta api, mempertaruhkan nyawa di jalan dengan berjalan di trotoar yang diambil alih pengendara motor dan begitu banyak kematian yang disebabkan oleh tidak fokusnya masing-masing stakeholder pada bidang pekerjaannya. Ada banyak contoh dan kamu pasti bisa menyimpulkan sendiri.

Sekali lagi, apa itu fokus?

Bisa fokus atau boleh saya kerucutkan menjadi profesional di bidangnya cuma sebatas mimpi bagi sebagian banyak orang di Republik ini. Karena apa? karena pemimpin dan perwakilan rakyat mereka sendiri, yang dipilih oleh mereka sendiri. Justru tidak fokus memikirkan kesejahteraan rakyat.

Jadi, sudahlah. Saya pribadi akan mencoba fokus dan profesional. Tapi di bidang apa? belum tahu kalau saya bilang. Do'akan saja saya secepatnya tahu dan mahfum. ha ha ha ha ha.