Kata-kata seperti tidak betah di dalam kepala, mereka ingin berlari di laman ini. Entah mengapa, seperti anak kecil yang kecanduan mainan baru. Selalu muncul hasrat untuk mengeluarkan semua yang ada di kepala.
Hari jumat untuk kesekian kalinya dalam rentang jatah hidup di dunia. Kemarin tinggal sejarah, atau detik di mana saya menuliskan paragraf awal tadi. Masa lalu menjadi semakin jauh. Tapi kenangan menjadi-jadi tumbuh dengan suburnya.
Saya sedang tidak ingin menceritakan apa-apa. Karena kehidupan berjalan sudah seperti kehendak Yang Maha Kuasa. Tinggal mau memilih rute hidup yang mana. Saya sedang coba merangkai pola pikir yang ada di kepala. Apa yang sebenarnya hendak dicapai dalam kehidupan. Kenapa ada begitu banyak target yang harus dicapai, tidak bisakah saya tetap tertawa tanpa memikirkan esok harus memulai satu tantangan baru. Sepertinya tidak, karena semuanya sudah harus terjadi seperti apa yang akan terjadi.
Seolah pasrah, ya?
Kehidupan selalu penuh dengan pertentangan dan pengharapan. Ketika saya pribadi memulai satu pilihan dalam hidup, maka akan banyak pertentangan yang terjadi. Tidak saja dari diri sendiri tapi juga dari lingkungan sekitar.
Apa lagi, ya?
Humm. Selama langit masih belum tahu ujungnya di mana. Selama itu juga pertanyaan akan selalu muncul di kepala.
Kamis, 20 Juni 2013
Catatan Perjalanan Dinas
Selamat malam. Selamat siang. Selamat pagi.
Berdasarkan surat perintah tugas yang diterima. Hari ini diwajibkan untuk melaksanakan tugas orientasi calon hutan adat di Desa Baru Kibul, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Jangan tanya itu di mana, akan panjang ceritanya.
Hutan adat merupakan areal hutan yang ditetapkan oleh Bupati setelah melalui usulan dari warga/masyarakat desa berdasarkan hasil musyawarah. Kawasan hutan yang diusulkan merupakan areal penggunaan lain (APL) yang memiliki fungsi vital bagi masyarakat. Paling kentara adalah sebagai sumber mata air penduduk.
Hutan adat, sejauh ini. Merupakan areal ber-hutan yang ekosistemnya paling terjaga-selain Taman Nasional. Karena, hutan dijaga berdasarkan hukum adat, dan masyarakat di (hampir) seluruh desa di republik ini sepertinya jauh lebih taat pada hukum adat dibandingkan hukum negara.
Hutan adat yang kali ini disurvey, masih memiliki ekosistem alami. Dibuktikan dengan penutupan lahan yang didominasi oleh pohon-pohon besar dan beranekaragam jenis. Ada terlalu banyak pengulangan "hutan adat, ya?" abaikan saja. Saya sedang dalam kondisi lelah saat menulis. ha ha ha ha
Perjalanan menuju desa menempuh jarak sekitar 40 km dari ibukota kabupaten yang adalah tempat saya tinggal yang mana saya tinggal dengan masih menumpang pada orangtua saya.
Kondisi jalan yang ditempuh didominasi oleh jalan berlubang dengan batu-batu seukuran kepalan tangan pria belum dewasa. Jadi butuh skill handal untuk menempuh perjalanan kali ini, dan kasihanilah pacar saya vixion, yang jadi korban "kebobrokan birokasi." (akan saya tulis diedisi berikutnya)
Demikian kisah perjalanan dinas saya kali ini. Banyak yang janggal dari tulisan ini? sengaja. Yang penting saya mulai bisa berkomitmen untuk selalu menulis.
Berdasarkan surat perintah tugas yang diterima. Hari ini diwajibkan untuk melaksanakan tugas orientasi calon hutan adat di Desa Baru Kibul, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Jangan tanya itu di mana, akan panjang ceritanya.
![]() |
| Areal sawah yang sudah lama tidak dibudidayakan di pinggir Hutan Adat Desa Baru Kibul |
![]() |
| ini pohon senggeris. lihatnya dengan memerengkan kepala tentunya. (._. ) |
Hutan adat, sejauh ini. Merupakan areal ber-hutan yang ekosistemnya paling terjaga-selain Taman Nasional. Karena, hutan dijaga berdasarkan hukum adat, dan masyarakat di (hampir) seluruh desa di republik ini sepertinya jauh lebih taat pada hukum adat dibandingkan hukum negara.
![]() |
| Kekuatan leher anda dicoba pada postingan kali ini. |
Hutan adat yang kali ini disurvey, masih memiliki ekosistem alami. Dibuktikan dengan penutupan lahan yang didominasi oleh pohon-pohon besar dan beranekaragam jenis. Ada terlalu banyak pengulangan "hutan adat, ya?" abaikan saja. Saya sedang dalam kondisi lelah saat menulis. ha ha ha ha
Perjalanan menuju desa menempuh jarak sekitar 40 km dari ibukota kabupaten yang adalah tempat saya tinggal yang mana saya tinggal dengan masih menumpang pada orangtua saya.
Kondisi jalan yang ditempuh didominasi oleh jalan berlubang dengan batu-batu seukuran kepalan tangan pria belum dewasa. Jadi butuh skill handal untuk menempuh perjalanan kali ini, dan kasihanilah pacar saya vixion, yang jadi korban "kebobrokan birokasi." (akan saya tulis diedisi berikutnya)
Demikian kisah perjalanan dinas saya kali ini. Banyak yang janggal dari tulisan ini? sengaja. Yang penting saya mulai bisa berkomitmen untuk selalu menulis.
Rabu, 19 Juni 2013
CEPAT
Cepat, jangan terlalu lama menyeruput kopi itu. Dia sudah menunggu terlalu lama.
Wanita dengan senyum terindah yang pernah aku temui. Mungkin sedang mengatur ulang rambut legamnya yang berkibar oleh angin senja.
Cepat, kamu terlalu lama memilih pakaian yang semuanya bernada sama. Hitam dengan motif yang sudah memudar.
Cepat, dia bukan wanita yang akan bersabar menunggumu.
Kemudian aku mengendarai motor kesayanganku seperti diburu hantu. Kendaraan lain aku lihat hanya seperti bayangan tanpa wujud nyata.
Ah, itu dia. Bergegas aku berlari menghampirinya. Hasrat ingin memeluk sudah membuncah di dada. Betapa aku merindukan dia. Rona merah di pipi yang selalu aku puja. Gingsul yang membuat dia semakin mempesona.
Tapi tunggu dulu. Siapa pria dengan kemeja kotak-kotak yang sibuk berbincang denganmu. Siapa dia?
Seandainya kamu bisa melihat. Sudah ada tanduk setajam Katana tumbuh di kepalaku.
Emosiku membuncah. Kamu pengkhianat!
Aku berteriak memanggil namamu. "Hei, beginikah balasan dari cinta tulusku?"
Kamu semakin tertawa kencang. Aku lihat jelas rona kebahagiaan terukir di wajah cantikmu.
Aku berjalan semakin mendekat. Tapi, kenapa kamu tidak menyadari kehadiranku?
Tanganku hanya memukul udara kosong. Padahal targetku jelas, wajah pria brengsek itu.
**
Tak lama aku melihat segerombolan pria memakai baju berwarna putih dan seragam coklat. Mereka dengan muka tidak bersahabat meringkusku dan kemudian memborgol tanganku.
"Sakit, Pak. Apa salah saya!?"
Hantaman koran bertanggal tepat sebulan dari hari ini mengajar pipiku.
"Sudah saya bilang berulang kali, baca dan segeralah tobat menjadi orang gila."
**
Aku menatap nanar judul halaman utama koran yang ku baca. Pada satu kamar dengan seluruh dindingnya berwarna coklat tua.
Headlinenya sangat jelas "Karena Cemburu Buta. Seorang Pemuda Membantai Kakak Beradik di Taman Kota."
Ah, andai saja aku hari itu tidak cepat menyimpulkan semuanya. Andai aku tidak cepat curiga padamu pada hari sebelumnya.
Wanita dengan senyum terindah yang pernah aku temui. Mungkin sedang mengatur ulang rambut legamnya yang berkibar oleh angin senja.
Cepat, kamu terlalu lama memilih pakaian yang semuanya bernada sama. Hitam dengan motif yang sudah memudar.
Cepat, dia bukan wanita yang akan bersabar menunggumu.
Kemudian aku mengendarai motor kesayanganku seperti diburu hantu. Kendaraan lain aku lihat hanya seperti bayangan tanpa wujud nyata.
Ah, itu dia. Bergegas aku berlari menghampirinya. Hasrat ingin memeluk sudah membuncah di dada. Betapa aku merindukan dia. Rona merah di pipi yang selalu aku puja. Gingsul yang membuat dia semakin mempesona.
Tapi tunggu dulu. Siapa pria dengan kemeja kotak-kotak yang sibuk berbincang denganmu. Siapa dia?
Seandainya kamu bisa melihat. Sudah ada tanduk setajam Katana tumbuh di kepalaku.
Emosiku membuncah. Kamu pengkhianat!
Aku berteriak memanggil namamu. "Hei, beginikah balasan dari cinta tulusku?"
Kamu semakin tertawa kencang. Aku lihat jelas rona kebahagiaan terukir di wajah cantikmu.
Aku berjalan semakin mendekat. Tapi, kenapa kamu tidak menyadari kehadiranku?
Tanganku hanya memukul udara kosong. Padahal targetku jelas, wajah pria brengsek itu.
**
Tak lama aku melihat segerombolan pria memakai baju berwarna putih dan seragam coklat. Mereka dengan muka tidak bersahabat meringkusku dan kemudian memborgol tanganku.
"Sakit, Pak. Apa salah saya!?"
Hantaman koran bertanggal tepat sebulan dari hari ini mengajar pipiku.
"Sudah saya bilang berulang kali, baca dan segeralah tobat menjadi orang gila."
**
Aku menatap nanar judul halaman utama koran yang ku baca. Pada satu kamar dengan seluruh dindingnya berwarna coklat tua.
Headlinenya sangat jelas "Karena Cemburu Buta. Seorang Pemuda Membantai Kakak Beradik di Taman Kota."
Ah, andai saja aku hari itu tidak cepat menyimpulkan semuanya. Andai aku tidak cepat curiga padamu pada hari sebelumnya.
Selasa, 18 Juni 2013
Menulis
"Menulislah, karena dengan menulis kamu minimal membaca dalam tiga waktu. Pertama saat menuliskan, kemudian mencari referensi tulisan dan selanjutnya saat tulisanmu sudah jadi," ucap Doktor Purwo, ketika saya menanyakan "Saya suka membaca, Pak. Bagaimana menurut pendapat bapak?"
"Malas adalah induk psikologi," tulis Friedrich Nietzsche. Ya, rasa malas adalah biang segala biang setiap kali hendak menulis bagi saya. Malas untuk merangkai kata-kata, malas memikirkan apa yang akan terjadi setelah tulisan dipublikasikan dan malas untuk banyak hal lainnya.
Bagi saya, wajar saya punya ketakutan akan hal tersebut. Karena sebuah tulisan bisa menimbulkan deskripsi panjang bagi pembaca (kalau ada yang sedang sial tersesat di blog semenjana ini) ha ha ha ha. Tapi, ada keinginan besar untuk bisa secara berkala untuk menulis dan mempublikasikan sebuah tulisan. Bukan karena apa, saya ingin terkenal. Halah. Bukan, bukan, saya ingin otak saya tidak cuma memikirkan satu kalimat pendek tanpa mampu menerjemahkan baik pemikiran maupun imajinasi yang saya punya. Kasihan donk sama diri sendiri, cuma bisa jadi seorang pembaca setia, tanpa mampu didengarkan pemikirannya oleh orang lain.
Apabila semenjak mengenal Twitter dan mengenal banyak orang-orang hebat yang mampu menuliskan apa yang mereka pikirkan dan khayalkan dalam sebuah bentuk tulisan. Menghasilkan sebuah tulisan yang mampu menggugah banyak orang atau setidaknya menghibur hati yang sedang gundah gulana. :D
Kenapa menulis bagi saya masih menjadi hal yang susah sampai saat ini. Eh, baru saya bilang susah sekarang, ya? :p
Saya khawatir tulisan saya tidak sesuai dengan aturan baku. Saya banyak tidak tahu bagaimana sebuah tulisan yang baik itu bisa diterima oleh banyak orang. Saya takut tidak mampu memenuhi ekspektasi orang yang membaca, yang pada akhirnya. Blog ini jadi semacam gubuk di tengah ladang. Hanya diisi pada saat si empunya sedang ingin saja. :D
Tapi, akhirnya saya sampai pada kesimpulan. Menulislah, Jem. Karena kamu suka, ingin dan cinta akan dunia tulis menulis. Pendapat manusia adalah hak mereka sendiri, jangan terlalu digubris. Mereka bukan orang yang memberi nutrisi untuk otakmu berpikir. Menulislah, Jem. Untuk bisa mengenal betapa luasnya dunia tulis menulis. Untuk bisa memapas habis ego yang terlalu tinggi di dirimu sendiri.
Oke. Akhirnya saya menulis ini. Tulisan yang saya tulis dengan perut sedang kenyang dan karena saya suka.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Hibur hati saya saat tulisan ini sedang dibuat.
Jadi, sudikah membagi kekuatanmu wahai semesta. Untuk saya bisa menuliskan berbagai macam hal yang bisa bermanfaat, minimal untuk diri saya sendiri.
Oke, baik. Mantap kali semesta. Ingatkan terus kalau saya masih perlu banyak belajar.
Selasa, 11 Juni 2013
Hari Ini Cuaca Dingin Sekali
Entah kenapa, aku selalu menyukai cuaca dingin. Seperti ada tangan halus yang membelai kuduk dan pipi.
Dingin, Dingin, Dingin. Aku ingin kotaku selalu seperti ini. Dingin.
Mungkin dulu aku dilahirkan pada saat cuaca sedang dingin di sabtu sore pada masa lalu.
Atau juga mungkin, aku memenangkan pertarungan dengan jutaan sel sperma lainnya pada saat cuaca dingin?
Selalu ada banyak kemungkinan dalam setiap pemikiran.
Kamu masih juga suka dingin? saat kita berbagi kehangatan pada saat cuaca dingin? masih ingat?
Cuaca dingin, sama halnya dengan hujan. Bagiku selalu membawa bertumpuk-tumpuk kenangan indah dan tidak.
Seperti 10tahun yang lalu, saat aku cuma remaja berusia 16tahun. Terdampar pada sambungan gerbong kereta api ekonomi menuju Jakarta. Pada malam yang dingin, untuk pertamakalinya menjejakkan kaki di Ibukota.
Aku juga selalu ingat, kamu satu saat di masa depan. Ingin berdomisili di kota yang selalu dingin, iya, di Malang.
Dingin, aku cuma ingin membuatku jariku menari. Agar ia bisa hangat dan meresapi dinginnya malam ini, sekaligus tidak membiarkan blog ini terlalu lama kering tanpa tulisan.
Dingin, Dingin, Dingin. Aku ingin kotaku selalu seperti ini. Dingin.
Mungkin dulu aku dilahirkan pada saat cuaca sedang dingin di sabtu sore pada masa lalu.
Atau juga mungkin, aku memenangkan pertarungan dengan jutaan sel sperma lainnya pada saat cuaca dingin?
Selalu ada banyak kemungkinan dalam setiap pemikiran.
Kamu masih juga suka dingin? saat kita berbagi kehangatan pada saat cuaca dingin? masih ingat?
Cuaca dingin, sama halnya dengan hujan. Bagiku selalu membawa bertumpuk-tumpuk kenangan indah dan tidak.
Seperti 10tahun yang lalu, saat aku cuma remaja berusia 16tahun. Terdampar pada sambungan gerbong kereta api ekonomi menuju Jakarta. Pada malam yang dingin, untuk pertamakalinya menjejakkan kaki di Ibukota.
Aku juga selalu ingat, kamu satu saat di masa depan. Ingin berdomisili di kota yang selalu dingin, iya, di Malang.
Dingin, aku cuma ingin membuatku jariku menari. Agar ia bisa hangat dan meresapi dinginnya malam ini, sekaligus tidak membiarkan blog ini terlalu lama kering tanpa tulisan.
Jumat, 31 Mei 2013
Untuk Kamu, Bunga Paling Indah dalam Hidupku.
Seingatku, kamu wanita terakhir yang aku kirimkan rangkaian kalimat indah atau gombal ya? Entah, aku semakin pelupa dengan satu hal itu. Seingatku juga, aku mulai mengandaikan cinta dalam cerita/puisi/sajak (yang menurutku) indah, adalah semasa SMA. Masih disimpan ujar mantanku, yang sekarang sudah punya anak satu. Aku penasaran, ingin kembali ke membacanya.
Aku banyak membaca, tapi terlambat untuk menyadari, bacaan bukan cuma sekedar dibaca. Tapi harus belajar untuk menuliskan apa yang sudah diketahui. Aku semakin sering mengabaikan banyak hal, ya.
Ah, aku melantur. Kembali ke kamu, "Apa kabar kamu sekarang?" hal yang terakhir aku ingat tentang kamu adalah amarahmu. Saat aku memutuskan untuk menjadi Pegawai Negeri, meninggalkanmu di Bogor. Meninggalkan semua janji-janji yang kita ikrarkan bersama, di sudut sempit kamar rumah kontrakan di komplek perumahan yang banyak istri simpanannya.
Kamu, mungkin ada saatnya aku menemukan wanita lebih hebat darimu. Tapi sampai detik ini, masih jadi wanita terhebat yang pernah singgah di dalam kehidupanku. Melalui perkenalan yang tidak disengaja. Sebentar, waktu itu kalau tidak salah, aku hendak meminjamkan buku. Buku punya kakak kelasmu, pacarku sebelum kamu jadi pacarku. Ah, iya. Kamu menggunakan jaket kesayanganmu, abu-abu buram. Tapi aku suka, aku mulai melihat kamu sebagai sosok yang berbeda. Dari cara bicaramu, tatapanmu, kecerdasan yang terpancar dari ucapanmu. Ah, aku jatuh cinta saat sedang menjalin hubungan dengan orang lain yang adalah kakak kelasmu sendiri. Cinta pada pandangan pertama.
Aku percaya sampai detik ini, lama waktu sebuah hubungan. Tidak berpengaruh dengan seberapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh seseorang, kita tidak lama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi terlalu lama menurutku untuk mampu menghilangkanmu dari setiap moment kehidupan yang aku jalani.
Kamu, terkadang aku rindukan, dilain waktu aku membenci kenapa kita harus bertemu. Mengukir kisah begitu hebat dan kamu hadir dengan kharakter yang membiusku. Berulang kali aku merendahkan diriku, mengirimkan sms "Aku ingin bertemu, walau hanya sekali saja. Biar semuanya bisa lepas dari anganku," dan berulang kali kamu menolaknya.
Kamu sekarang aku lihat semakin cantik, bahagia dengan dia. Dia, kawanku, yang kami dulu selalu bertegur sapa, dia yang terakhir kali di tahun 2011 menunjukkan mimik muka sungkan saat bertemu denganku di Kotaku. Dia yang mempunyai darah leluhur sama denganku. Ah hidup, terlalu kompleks untuk dicari kenapa semesta seolah berkonspirasi menghajarku dengan sebuah kenyataan, menghianati cinta, maka cinta akan menghianatimu pula.
Oh ya, aku sekarang sudah berhasil menggapai gelar Sarjana. Setidaknya aku tidak kalah dengan pacarmu itu, dengan kamu yang sedang mengejar gelar dokter hewan. Semoga dalam tahun ini. Aku bisa kembali ke Bogor, menempuh jenjang pendidikan Pascasarjana, dan kamu mau bertemu denganku. Sekali saja.
Selamat berbahagia kamu, segeralah menikah. Supaya harapanku benar-benar menjadi abu.
Kamis, 16 Mei 2013
Aku Ingin Punya Gelar Sarjana
Bagaimana perasaanmu saat akan memperoleh gelar Sarjana dalam
hitungan hari? kalau kamu bertanya denganku, dengan lantang aku
akan menjawab AKU BAHAGIA. Gelar yang sudah aku impikan
sekian tahun lamanya.
Lepas dari SMA, aku tidak pernah berpikir ataupun menyerap
sedikitpun informasi bahwa gelar Sarjana punya pengaruh besar
dalam kehidupan pribadi. Tidak dari orangtua ataupun
keenggananku sendiri untuk mengulik informasi.
Tahun 2009, pertama kali menjalani status sebagai Pegawai Negeri
Sipil. Itulah saat dimana aku sadar dan melihat ada jurang pemisah
besar antara mereka yang punya gelar Sarjana dengan yang bukan
Sarjana di dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari kamu
mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan ataupun
diberikan tanggung jawab.
Aku harus Sarjana, pikirku saat itu. Walaupun aku sadar akan ada
begitu banyak tantangan ke depannya. Mulai dari kesibukan
pekerjaan maupun prosedur Birokrasi yang rumit untuk bisa lekas
memperoleh gelar Sarjana.
Sampai di hari ini, sudah begitu banyak kisah. Baik senang
maupun menyedihkan yang aku lalui untuk memperoleh gelar
Sarjana yang aku impikan.
Kamu tahu, Sarjana bagiku subtansinya bukan sekedar penambahan
beberapa huruf di belakang nama, ataupun untuk prestise di tengah masyarakat.
Aku melihat ke sudut cakrawala yang lebih luas. Ada banyak hal
yang bisa aku lakukan, ada banyak pendapat dan tindakan nyata
yang akan menemukan jalannya.
Bukan perkara gampang untuk sampai di hari ini, tiga hari
menjelang Sidang Skripsi. Di salah satu Kampus Universitas
Swasta (kecil) di Kota yang beranjak besar. Setelah sebelumnya
menjalani pendidikan Ahli Madya di Universitas (yang bisa
dibilang) bonafit. Ada banyak pergulatan di dalam diri sendiri,
tantangan dari luar dan hambatan dalam banyak aspek.
Masih ada Sidang Skripsi yang harus aku hadapi, saat dimana aku
harus bisa mempertahankan hasil penelitian di depan lima orang
Dosen Penguji.
Semoga Sidang Skripsinya lancar, dan kemudian bisa melanjutkan
ke Jenjang Pascasarjana teriakku ke semesta.
Aku punya beberapa nazar dan niat untuk aktif di dunia tulis
menulis.
Mohon do'anya, kawan.
Langganan:
Postingan (Atom)


